Kamar Mandi Ukuran 5×5

9 views

Kamar Mandi Ukuran 5×5

5+ Desain Kamar Mandi Ukuran 5x5.5 Yang Dapat Anda Aplikasikan

5+ Desain Kamar Mandi Ukuran 5×5.5 Yang Dapat Anda Aplikasikan | kamar mandi ukuran 2×1

Desain Kamar Mandi Minimalis Ukuran 5x5 5 Kamar Mandi Minimalis ...

Desain Kamar Mandi Minimalis Ukuran 5×5 5 Kamar Mandi Minimalis … | kamar mandi ukuran 2×1

5 Inspirasi Kamar Mandi Ukuran 5x5. Meski Kecil, Tapi Tetap ...

5 Inspirasi Kamar Mandi Ukuran 5×5. Meski Kecil, Tapi Tetap … | kamar mandi ukuran 2×1

Ukuran 5x5 Desain Kamar Mandi Minimalis 5x5 - Rumah Joglo Limasan Work

Ukuran 5×5 Desain Kamar Mandi Minimalis 5×5 – Rumah Joglo Limasan Work | kamar mandi ukuran 2×1

Agustini menyatakan nelangsa menyaksikan kuburan itu. Perempuan 48 tahun tersebut sama sekali tak terdapat hubungan dengan almarhum. Tapi, ia terdapat di sana ketika Arie dikebumikan 30 tahun lalu, ketika TPU Jeruk Purut belum seramai dan serapi sekarang. Sebuah upacara penguburan yang mengharu biru, tangis tidak sedikit orang pecah saat jasad kecil tersebut dimasukkan ke liang lahat.

“Aduh saya mah inginkan nangis aja bila ingat lagi kisahnya. Sampai kini sudah meninggal pun kuburannya dibiarin aja begitu nggak diurus. Kasihan, hidupnya disiksa sama orang tuanya, meninggalnya dilupain,” ujar pemelihara makam itu.

Sejak tahun 2000, jarang terdapat yang ziarah ke makam Arie Hanggara. Sopian, petugas TPU Jeruk Purut mengatakan, ongkos administrasi — yang mesti ditunaikan 3 tahun sekali — telah menunggak 5 tahun. “Kalau telah nggak ditunaikan selama 3 periode atau 9 tahun (makam) itu dapat ditumpuk,” kata dia.

Dari daftar administrasi, tercantum nama Nyonya Dahlia. Alamat rumahnya di wilayah Pengadegan Timur, Kalibata, Jakarta Selatan. Namun, ketika didatangi, perempuan tersebut tak terdapat di sana.

Warga selama berujar, lokasi tinggal bernomor 10 tersebut dulunya memang lokasi tinggal Machtino bin Eddiwan dan Santi – ayah dan ibu tiri Arie. Sejak 2004 lokasi tinggal itu dipasarkan dan sudah beralih tangan. “Kalau Machtino dan Santi saya tahu, Machtino meninggal tahun 2004 dan sejak tersebut rumahnya dijual,” kata warga mempunyai nama Rizki. Ia tak mengenal siapa Dahlia. Penelusuran Media nama ibu kandung Arie ialah Dahlia Nasution.

Arie Hanggara tutup umur pada 8 November 1984, usianya belum genap 8 tahun ketika itu. Bocah kecil tersebut tewas disiksa ayah kandungnya sendiri. Dikompori sang ibu tiri.

Dengan dalih mendisiplinkan anak atau barangkali melampiaskan kekesalan karena putus asa jadi pengangguran, Machtino sering menghajar Arie. Pipi kecil tersebut ia tampar berkali-kali sekuat tenaga, memukulinya dengan gagang sapu, mengikat kaki dan tangan si anak kedua, diajak berdiri jongkok hingga ratusan kali. Arie juga kerap ‘disetrap’, tergolong di kamar mandi bertegel dingin.

“Hadap tembok!” teriakan ini sempat didengar tetangga pada malam itu. Dini harinya, bocah yang kepayahan tersebut tak lagi dapat bertahan. Ia ditemukan ambruk dengan tubuh kaku. Machtino dan Santi menyesal berat, tapi masa-masa tak dapat diputar ulang kembali.

Kematian Arie Hanggara buat gempar kala itu. Orang-orang tak berakhir pikir, mengapa dapat orangtua menganiaya anaknya sendiri sampai mati. Kok tega? Rekonstruksi pembunuhan mesti diulang sejumlah kali sebab massa tidak jarang kali berjejal, tak melulu menonton, namun gemas hendak menghakimi Machtino dan Santi.

Seluruh media massa mengusung cerita Arie. Salah satunya, Majalah Tempo yang memuat judul panjang di halaman mukanya: “Arie namanya. Ia mati dihukum ayahnya. Mungkin anak anda tidak. Tapi benarkah anda tidak kejam?”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto pun sempat berniat membuatkan patung Arie sebagai peringatan supaya kasus serupa tak terulang di masa mendatang. Tapi batal.

Nestapa Arie Hanggara dibangunkan kembali dalam suatu film, dengan judul sama dengan namanya. Film besutan Frank Rorimpandey itu disaksikan ratusan ribu orang – yang `membanjiri’ bioskop dengan air mata.

5 Desain Kamar Mandi Sempit Minimalis Ukuran Kecil Yang Cantik ...

5 Desain Kamar Mandi Sempit Minimalis Ukuran Kecil Yang Cantik … | kamar mandi ukuran 2×1

Arie ialah simbol dari anak-anak yang tertindas. Namun kini, seiring masa-masa berlalu, tak hanya makam dan namanya yang terlupakan. Ia seakan melulu menjadi sebuah cerita masa lalu.

Ini tidak saja tentang Arie Hanggara. Ada tidak sedikit bocah di negeri ini yang menjadi korban penganiayaan. Kasus kekerasan terhadap anak kian sering terjadi, dirasakan ‘biasa’, bahkan tak dirasa penting.

Dan laksana apa yang terjadi pada Arie Hanggara — ketika ini — inginkan tak mau, suka tak suka mendengarnya, ini ialah fakta: sumber bencana untuk para bocah dapat jadi terdapat di rumah. Ancaman terbesar untuk anak bukan tak mungkin ialah orang-orang terdekat yang seharusnya mengayomi dan melindungi jiwa-jiwa kecil itu.

Seperti yang baru-baru ini terjadi. Pada Rabu 18 Desember 2013, Muhammad Rizky Zaki diculik orangtuanya ke lokasi tinggal sakit. “Demam.” Itu dalil yang diserahkan pada paramedis. Apapun yang dilaksanakan padanya tak mempan. Tubuh bocah yang belum genap 3 tahun tersebut kaku dan biru.

Pada polisi, ayah kandung Rizky, Achen dan ibu tirinya, Rosalina menyatakan lebam dan memar di jasad anak itu dampak terbentur tembok ketika mati lampu. Itu pernyataan dusta.

Yang benar, Rizky tewas dampak menjadi pelampiasan kekecewaan orangtuanya. Dipukuli, dibanting. Berkali-kali. `Salah` bocah itu melulu karena dia rewel dan menangis sebab merasa sakit.

Dan tidak boleh lupakan Raditya Atmaja Ginting alias Adit. Bocah 8 tahun tersebut ditemukan dalam situasi kurus kering, berlumuran darah, dan sarat cedera. Ada luka bakar menganga lebar di punggungnya. Diduga dampak disiksa ayah kandung dan ibu tirinya.

Adit ditelantarkan di perkebunan kelapa sawit PTPN V Tandun, Riau. Sengaja dilemparkan ke sana. Ia ditemukan seorang saudagar sayur pada Minggu 15 Desember 2013. Rintihan dari bibirnya menjadi pertanda keberadaannya, “Bang, bantu saya…”

Rintihan yang sama disuarakan jutaan anak lainnya, dalam diam, yang terwakili oleh tangis mereka: “Tolong…”

Untung Ada Yuliana…

Iqbal sudah dapat tersenyum. Bocah lucu tersebut terlihat senang ketika dikunjungi pemerhati anak Seto Mulyadi, Selasa 1 April 2014 lalu. Lehernya mendongak menyaksikan pria ramah berkaca mata yang berdiri dekat ranjangnya di ruang perawatan RSUD Koja, Jakarta Utara 

Mata Iqbal bersinar saat didongengi Kak Seto. Ia tertawa gembira mendengar suara-suara hewan yang ditirukan dengan mahir oleh seorang lelaki dewasa, ikut berdendang ‘Balonku Ada Lima’ — dari balik masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya.

“Ekspresinya telah bagus, telah tertawa,” kata Kak Seto. “Iqbal anak cerdas, perkembangannya positif.”

Namun, ketika Kak Seto berkeinginan pulang, Iqbal menangis sejadinya. “Begitu bakal tinggalkan, tiba-tiba menangis,” kata Seto, yang berjanji bakal sering-sering menengok.

Kondisi jasmani bocah 3,5 tahun tersebut pun membaik. Ketua Tim Dokter yang mengasuh Iqbal, dr Dewi Iriani, menuturkan, luka di kelamin dan lidah yang tergunting, ketika ini melulu menyisakan lecet. “Untuk lidah nanti kesatu-tama agak cadel aja berbicaranya,” kata dr Dewi.

Bu dokter mengatakan, luka di lidah dan kelamin Iqbal disebabkan benda tajam laksana gunting. Membuat robek, namun tak hingga terpotong. Kabar baiknya lagi, besok saat dewasa, Iqbal masih dapat punya keturunan.

Sementara, menurut pemeriksaan, tangan kiri Iqbal pernah patah berkali-kali. Meski tulang-tulangnya dapat menyambung dengan mudah sebab ia masih bocah, trauma jasmani itu bakal meninggalkan bekas. “Kondisi tangan Iqbal yang sudah tidak jarang patah, sambung sendiri, mengakibatkan bentuknya bakal bengkok-bengkok,” kata dr Dewi. Kondisinya hanya dapat dinormalkan lagi dengan jalan operasi.

Namun, bukan tersebut luka Iqbal yang terparah. Berdasarkan keterangan dari Dokter Dewi, cidera sangat gawat terdapat pada jiwanya. “Psikisnya ini yang perlu pemulihan. Soal jasmani sudah membaik.”

Untung terdapat Yuliana! Jika tak ada wanita ini Iqbal barangkali masih berkeliaran di jalanan. Mengemis dengan tubuh babak belur, penderitaannya unik simpati orang guna merogoh kocek lebih dalam, kemudian meninggal dan terlupakan. Selesai.

Yuliana menyaksikan Iqbal ketika wanita 31 tahun itu berkeinginan berangkat kerja. Ketika menantikan bus Transjakarta di Halte Busway Sawah Besar. Bocah tersebut terlihat kepayahan. “Nggak tega lihat Iqbal, saya tanya ke bapak yang gendong dia,” kenang penduduk Tambora itu. Pria yang menggendong Iqbal ialah Dadang – terduga penculikan dan penyiksaan Iqbal.

Yuliana bermaksud mengantar Iqbal ke klinik terdekat guna diperiksa. Namun Dadang menolak. “Mau ngamen,” tersebut alasannya. Ia pun menambahi, luka yang diderita Iqbal telah biasa dampak sering dianiaya oleh ibu tirinya. Iqbal ketika itu melulu terus menangis tanpa dapat bicara.

Beberapa hari kemudian, Yuliana pulang bertemu Iqbal dan Dadang di Stasiun Kota. Kondisi Iqbal kian parah. Kejang-kejang. Banyak orang yang melihatnya, yang merasa kasihan, namun tak terdapat yang menghampiri. Kecuali Yuliana.

“Saya tanya kok mengapa nggak diangkut ke lokasi tinggal sakit?” cerita perempuan berhati mulia itu. Tak laksana pertemuan kesatu mereka, kali ini Yuliana memberanikan diri bertindak.

Ia berinisiatif mengantar Iqbal berobat. Yuliana, Dadang, dan Iqbal naik dua motor ojek mengarah ke ke klinik di area Mangga Dua. “Sewa ojek Rp 100 ribu. Saya bilang cari yang terdekat, lokasi kesatu tutup, kedua sarat dan antreannya panjang banget. Saya bilang nggak dapat nunggu sebab kejang-kejang anak itu,” ucapnya.

Dengan sekian banyak alasan, klinik dan lokasi tinggal sakit menampik kehadiran Iqbal yang sekujur tubuhnya sarat luka. Mulai dari dalil alatnya tidak lengkap, sampai dokter yang telah pulang. Sampai akhirnya, tukang ojek yang ditumpanginya menyarankan supaya Iqbal diangkut ke puskesmas di wilayah Pademangan, Jakarta Utara.

Di puskesmas itu, Iqbal mendapat perawatan kesatu. Dokter yang memeriksanya curiga, luka tersebut masih baru. Lalu anggota Polsek Pademangan Bripka Putra muncul. Ia mendapat laporan dari satpam puskesmas bahwa terdapat anak yang dicurigai korban penganiayaan.

Dadang diangkut ke Polsek, sedangkan Iqbal langsung diangkut ke RSUD Koja guna mendapatkan perawatan. Dari situlah, Iqbal terselamatkan. Seandainya ada tidak sedikit orang laksana Yuliana…

Akar Kekerasan?

Tingginya angka kekerasan dan pemerasan terhadap anak akhir-akhir ini memunculkan keprihatinan. Ada tidak sedikit sebab kenapa para bocah jadi objek penderita.

Jika pelakunya ialah orangtua, anak barangkali jadi korban pelampiasan kekecewaan orang dewasa pada hidup. Atau, dengan dalih mendirikan disiplin. “Saat ini tidak sedikit yang berpikir jika hendak mendidik anak jadi disiplin dan baik mesti dengan teknik dipukul atau dimarahi. Padahal tersebut salah,” kata pemerhati anak Kak Seto. “Kalau dapat dipersentasekan, masih terdapat 80 persen family yang memilki paradigma semacam itu.”

Untuk menghentikan kekerasan anak, Kak Seto menganjurkan di masing-masing RT dan RW mesti terdapat Satgas Perlindungan Anak. Satgas ini yang mengadukan pada instansi bersangkutan andai terjadi kekerasan di lingkungannya.

“Jangan hingga terjadi lagi ibu bunuh anak. Sang ibu saat tersebut sedang merasakan gangguan kejiwaan. Satgas ini dapat memenuhi kekosongan, dengan mengasuh anak yang ibunya merasakan gangguan jiwa laksana itu,” sarannya.

Jika kekerasan ini tidak segera dihentikan, kata Kak Seto, bukan tidak barangkali generasi muda ke depan akan mencetuskan anak muda yang menonjolkan kekerasan dibanding intelektual.

Sebab kedua, barangkali kurangnya pengawasan. Seperti yang terjadi pada Iqbal. Psikolog keluarga, Rosmini mengatakan, dalam permasalahan Iqbal, pelakunya Dadang bukanlah orangtua kandung korban. Tapi mantan kekasih ibunya, Iis Novianti (30).

Sejatinya gelagat kekerasan telah diketahui Iis jauh-jauh hari. Namun, ia tak cepat bertindak. “Dadang ini bekas pacar ibunya jadi saya menyaksikan bukan kekerasan yang dilaksanakan oleh keluarga. Namun mestinya memang, ibunya, Iis atau keluarganya dapat cepat mengayomi Iqbal saat sudah tahu sifat Dadang,” kata Rosmini ketika dihubungi Media orang dewasa laksana Dadang hingga tega mengerjakan penganiayaan terhadap bocah? Jawabannya, karena hal ekonomi. Urusan perut menciptakan tersangka tak lagi punya empati, tak sempat bahwa ia insan yang seharusnya punya kemanusiaan.

Parahnya, menurut keterangan dari Rosmini, segala kekerasan dan penyiksaan dilaksanakan Dadang secara sadar. “Saya menyaksikan Dadang tega mengerjakan penganiayaan untuk Iqbal lebih kepada hal ekonomi. Ada keterbatasan dana (uang) dan tidak sedikit yang kemauan yang belum dapat dipenuhi, jadi Dadang telah tidak terdapat empati lagi. Dia bakal tega terus guna menyiksanya,” cerah Rosmini.

Sementara, kriminolog yang pun menjabat anggota Kompolnas, Adrianus Meliala mengamini hal ekonomi sebagai dasar penganiyaan Iqbal.

Berdasarkan keterangan dari dia, pada kelompok orang bawah atau kelompok masyarakat miskin, kekerasan biasanya dihadapi oleh anak-anak kecil.

Adrianus menegaskan, Iqbal melulu salah satu misal kecil. Pada kelompok masyarakat kurang mampu kekerasan laksana itu dapat terjadi masing-masing hari, bahkan masing-masing waktu.

Bahkan, kata Adrianus, pemerasan anak tersebut rentan terjadi. Hanya bertolak belakang cara saja, terdapat yang lewat kekerasan atau terdapat anak yang dibujuk saja telah mau — dan tanpa terasa anak tersebut sudah jadi korban eksploitasi.

“Ini foto masyarakat dan kemiskinan. Kalau kurang mampu jahatnya sampai pemerasan anak. Ada tidak sedikit Iqbal-Iqbal beda di luar sana biasa mengalaminya.” (Lihat INFOGRAFIS di tautan ini)

(Elin Yunita Kristanti)

desain kamar mandi ukuran 2x1 5 meter desain kamar mandi ukuran 2x1 meter kamar mandi minimalis ukuran 2x1 kamar mandi minimalis ukuran 2x1 5 kamar mandi ukuran 2x1 kamar mandi ukuran 2x1 5m kamar mandi ukuran 2x1 meter sederhana kamar mandi ukuran 2x1.5 kamar mandi ukuran 2x1.5 meter kamar mandi ukuran 2x1.5 minimalis

Author: 
author

Related Post

Leave a reply